Memaknai “Neraka” sebagai kasih sayang Tuhan

Memaknai Neraka sebagai “kasih sayang” Tuhan
Tulisan ini sebenarnya hanya semacam transkrip dari obrolan dengan teman. Dalam sebuah bincang-bincang agama di Radio Lita Cimahi, pembawa acara – selain narasumber- mengundang bintang tamu. Bintang tamunya sekumpulan anak muda yang tergabung dalam sebuah kelompok band. Band-nya belum cukup terkenal tetapi namanya agak aneh, The Al-Marhum. Biasanya kata al-marhum disematkan pada orang-orang Islam yang sudah wafat. Karena itu, kata almarhum agak berkesan serem, ya setara dengan kata “kuburan” (yang juga jadi nama band). Kalau kita memahami almarhum dalam makna bahasa, sesungguhnya kata itu bermakna sangat posiitif, yakni “yang dikasihi”. Jika maknanya demikian, gelar almarhum juga boleh saja kita berikan pada orang-orang yang masih hidup dan sehat wal afiat. Anak-anak muda itu memberi nama band The Al-Marhum dalam makna yang positif tersebut, bukan dalam makna yang berkaitan dengan kematian. Itu sekedar intermezzo.

Karena saya mau cerita tentang neraka, tentu saja saya harus berhenti cerita tentang band anak muda tersebut dan beralih ke cerita tentang kematian. Pernahkah kita mati? Jawabannya akan sangat bergantung dengan apa yang dimaksud dengan mati. Jika kita mendefinisikan mati sebagai berpisahnya ruh dengan jasad (fisik), maka tentu saja kita belum pernah mati. Tetapi kalau kita ingat doa bangun tidur, “Segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku kembali setelah mematikan aku dan kepada Allah akan bangkit”, maka sesungguhnya kita sudah berulang-kali mati dan hidup.

Dalam al-Quran diceritakan bahwa di alam ruh kita semua (yang pernah hidup di dunia dan akan hidup di dunia) dikumpulkan dan ditanya oleh Allah Swt: “Alastu bi robbikum (Apakah Aku ini Tuhanmu?)”, kemudian kita semua menjawab dengan jawaban yang sama: “Bala syahidna (Benar, kami menyaksikannya)”. Dalam imajinasi saya, di alam ruh tidak dikenal urutan kakek-ayah-anak-cucu-dst. Sangat mungkin bahwa cucu saya di alam ruh sempat berteman dengan ruh saya bahkan dengan ruh kakek saya. Hanya ketika diturunkan ke bumi menjadi serial (ada urut-urutannya). Jadi bisa saja, salah satu kawan ruh saya malah menjadi ayah saya, kawan yang lain malah jadi anak saya. Ketika ruh saya dan ruh anak saya belum turun ke bumi sedangkan ruh ayah saya sudah turun, ruh saya dan ruh anak saya (barangkali) ngobrol. Ruh anak saya tanya: “Kalau ruh Nila Santana (nama di dunia ayah saya) ke mana ya?”. Barangkali ruh saya menjawab begini: “Ruh Nila Santana sudah mati, sudah almarhum, sudah pindah ke dunia”. Nah lho! Jadi apa dong yang disebut dengan mati itu?

Sebelum ke dunia ruh itu sempat mampir ke alam yang singkat, namanya alam rahim. Di alam rahimlah mulainya ruh disatukan dengan jasad. Saya agak kesulitan mengilustrasikan alam rahim ini. Apakah ketika di alam rahim ada teman-teman yang bisa saling berkomunikasi? Supaya gampang, kita bayangkan di rahim ibu ada 2 anak kembar, yang memungkinkan mereka berkomunikasi dengan bahasa alam rahim. Ketika yang sulung lahir ke dunia, yang tertinggal di rahim tinggal adiknya. Kira-kira apa yang dipikirkan adiknya? Mungkikah dia berfikir bahwa kakaknya sudah wafat, sudah almarhum, sudah meninggalkan alam rahim dan berpindah ke alam dunia? Who knows?

Bayangkanlah seorang anak kecil, usia 7 tahun, kelas 2 SD. Karena hidup di jaman sekarang, di mana HP, Blackberry, iPod, iPhone, dan iPAD ada di sekelilingnya, anak kecil itu sudah sangat familiar dan sangat menikmati teknologi tersebut. Dia juga kadang buka-buka youtube untuk melihat konser-konser Justin Bieber dan artis-artis terkenal lain yang menjadi kesukaannya. Dia sekarang sedang menunggu kelahiran adiknya yang kedua (adik pertemanya usia 4 tahun). Ibunya sudah 2 hari di Rumah Sakit, sudah 2 hari dia pulang sekolah langsung ke rumah sakit. Dia heran, kenapa adiknya nggak mau lahir ke dunia? Bukankah dunia ini sangat indah dan sangat berwarna. Kita bisa main BB, main game di iPAD, bisa lihat Justin di youtube. Ah, adikku tidak tahu kenikmatan di dunia makanya dia ingin tetep tinggal di alam rahim. Memang sih alam rahim itu alam kasih sayang, tapi kan nggak serame di dunia. Di dunia inilah kita juga bisa lihat hebatnya Lionel Messi dengan Barcalonanya. Kalau lagi bagus, Real Madrid, AC Milan, MU, dan Asenal juga enak ditonton. Lebih hebat lagi nonton Persib di Jalak Harupat. Kurang apa dunia dibanding alam rahim? Mungkin itu bayangan anak kecil yang sedang menanti kelahiran adiknya itu.

Sekarang posisikanlah diri kita di alam barzah (boleh juga kita bayangkan langsung di alam akhirat). Misalnya kita termasuk orang-orang yang beruntung masuk surga dengan segala kenikmatan dan kasih sayang Tuhan di dalamnya. Ketika kita hidup dengan segala kemewahan dan kenikmatan di akhirat, kita akan terheran-heran membayangkan orang-orang di dunia yang sangat takut mati, tidak mau pindah ke akhirat. Di dunia masih sering menemui kegagalan: putus cinta, karir macet, gaji pas-pasan, Liverpool gagal merajai ESL, dan yang lebih menyakitkan lagi Persib kembali gagal jadi juara ISL (sudah belasan tahun nunggu jadi juara kembali). Banyak kekecewaan. Sementara di akhirat, segalanya menyenangkan, tidak akan ada kesedihan. Kecanggihan teknologi di dunia, seperti internet, alat transportasi super cepat, iPAD, facebook, twitter, youtube, dll, jadi terkesan sangat jadul ketika melihat kecanggihan akhirat. Barangkali herannya kita (melihat manusia di dunia takut mati) lebih besar ketimbang keheranan anak SD yang melihat calon adiknya tidak mau pindah ke dunia. Jadi, mengapa kita harus takut dengan akhirat? Kematian hanyalah pintu menuju keabadian (akhirat).

Mengapa kita takut mati? Kita takut mati, mungkin, karena kita takut akan neraka. Mengapa harus takut akan neraka? Karena neraka merupakan tempat terburuk yang pernah ada, penuh dengan penderitaan yang berkepanjangan. Sampai kapan penderitaan di akhirat akan berakhir? Tidak tahu, wallahu’alam. Apakah penderitaan di akhirat mungkin berakhir? Sangat mungkin. Mengapa? Karena Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kasih sayangNya jauh melebihi azabNya. Mungkin ilustrasi berikut akan sangat membantu memahaminya.

Maghrib hampir tiba. Seorang ibu memanggil-manggil anak-anaknya. Tiga anak laki-lakinya sedang bermain sepakbola (dengan teman-temannya) di salah satu kolam yang baru tiga hari lalu dikeringkan. Mereka sudah bermain sejak waktu ashar tadi, sudah hampir 2 jam. Tanah di bekas kolam itu masih agak basah sehingga mereka sangat kotor. Ibu itu menyuruh mereka segera kembali ke rumah. Beberapa menit kemudian ketiga anaknya datang. Yang satu datang sudah bersih. Kelihatannya dia langsung mandi di kolam sebelahnya. Melihat anaknya sudah bersih, ibunya senang dan menyuruhnya segera masuk. Yang kedua lumayan bersih tetapi masih ada beberapa bagian yang kotor. Ibu menyuruhnya untuk membersihkannya. Setelah bersih baru diperbolehkan masuh rumah. Yang ketiga agak parah. Memang anaknya agak bandel. Dia datang dengan badan yang masih penuh dengan lumuran kotoran tanah kolam. Ibunya marah besar. Dia marahin anak itu, dia gusur ke kamar mandi, dia jewer, dia gosok sampai bersih. Ketika dimandikan anak itu ketakutan dan kesakitan. Anak itu menangis termehek-mehek. Anak itu dihukum.

Setelah selesai dihukum, anak ketiga itu akhirnya diperbolehkan masuk rumah yang bersih. Meski terlambat dibanding dua yang lainnya, dia juga diberi makan malam meski lebih sedikit (karena sisa dua lainnya). Mengapa ibunya mengijinkannya masuk ke rumah yang “suci” dan memberi “hidangan”, padahal anak itu kotor dan bandel? Itu terjadi karena ibu memiliki kasih sayang yang besar. Meski dia menghukum, hukumannya hanya sesaat saja dan sesungguhnya untuk kebaikan si anak itu. Dalam jangka panjang, kasih sayang ibulah yang ada.

Jika kasih sayang ibu saja bisa menyelamatkan anak tersebut, bagaimana mungkin Allah Swt yang Maha Penyayang membiarkan mahluknya dalam penderitaan selama-lamanya. Kasih sayang Allah Swt tentunya tidak bisa dibandingkan dengan kasih sayang orang tua. Kasih sayang Allah maha luas, tak berbatas. Dalam konteks seperti ini, kita bisa memaknai “hukuman di neraka” sebagai kasih sayang Allah Swt. Untuk masuk rumah orang tua saja si anak harus “suci”, bagaimana mungkin untuk masuk rumah Allah (surga) kita masih berlumuran dosa. Proses di neraka adalah proses pencucian dan pensucian diri. Orang-orang yang “mampir” ke neraka adalah mereka yang “dijewer” dan “digosok” sampai bersih. Mungkin itu sebabnya dalam al-Quran keabadian neraka dan surga menggunakan istilah yang “sedikit berbeda”. Keabadian neraka menggunakan istilah “kholidina fi ha (kekal)”, sementara di surga “kholidina fi ha abada (kekal abadi)”. Tentu bukan tanpa sengaja Allah Swt menggunakan istilah yang berbeda. Mungkin neraka itu kekal hanya untuk menunjukkan betapa lamanya dibandingkan kehidupan dunia, sementara di surga kekal-abadi menunjukkan lamanya dibanding kekalnya neraka sekalipun. Neraka menjadi sesaat jika dibandingkan kekal-abdi di surga. Wallahu’alam.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk “meremehkan” urusan mati dan neraka. Tulisan ini hanya memberikan alternatif perspektif terhadap mati dan neraka. Kita takut mati, itu adalah hal yang wajar. Ketika kita takut mati, maka sesungguhnya kita ingin abadi (hidup selamanya). Adanya keinginan atas keabadian, menunjukkan adanya keabadian itu sendiri (maaf agak rumit difahami). Sederhananya begini, ketika kita merasa haus maka rasa haus itu sendiri menunjukkan adanya air. Tidak mungkin Tuhan memberikan rasa haus kalau tidak disediakan penawar hausnya (air). Ketika kita merasa lapar maka itu menunjukkan adanya makanan. Tidak mungkin kita lapar sementara Tuhan tidak menciptakan makanan.

Terakhir, ketika sesorang wafat biasanya kita berucap “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un – Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali.” Siapapun kita, apapun kita, kita semua akan kembali kepada Allah Swt. Adakah tempat yang lebih baik dari selain kembali kepada Allah Swt? Tentu saja tidak ada. Hanya kebahagianlah yang akan kita temui ketika kita “sudah kembali” kepada Allah Swt. Kasih sayang Allah-lah yang akan meliputi kita semua. Jadilah kita sebagai anggota komunitas The Al-Marhum (yang dikasihi Allah Swt). Amiin. Wallahu’alam.

Memaknai Neraka sebagai “kasih sayang” Tuhan
Tulisan ini sebenarnya hanya semacam transkrip dari obrolan dengan teman. Dalam sebuah bincang-bincang agama di Radio Lita Cimahi, pembawa acara – selain narasumber- mengundang bintang tamu. Bintang tamunya sekumpulan anak muda yang tergabung dalam sebuah kelompok band. Band-nya belum cukup terkenal tetapi namanya agak aneh, The Al-Marhum. Biasanya kata al-marhum disematkan pada orang-orang Islam yang sudah wafat. Karena itu, kata almarhum agak berkesan serem, ya setara dengan kata “kuburan” (yang juga jadi nama band). Kalau kita memahami almarhum dalam makna bahasa, sesungguhnya kata itu bermakna sangat posiitif, yakni “yang dikasihi”. Jika maknanya demikian, gelar almarhum juga boleh saja kita berikan pada orang-orang yang masih hidup dan sehat wal afiat. Anak-anak muda itu memberi nama band The Al-Marhum dalam makna yang positif tersebut, bukan dalam makna yang berkaitan dengan kematian. Itu sekedar intermezzo.

Karena saya mau cerita tentang neraka, tentu saja saya harus berhenti cerita tentang band anak muda tersebut dan beralih ke cerita tentang kematian. Pernahkah kita mati? Jawabannya akan sangat bergantung dengan apa yang dimaksud dengan mati. Jika kita mendefinisikan mati sebagai berpisahnya ruh dengan jasad (fisik), maka tentu saja kita belum pernah mati. Tetapi kalau kita ingat doa bangun tidur, “Segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku kembali setelah mematikan aku dan kepada Allah akan bangkit”, maka sesungguhnya kita sudah berulang-kali mati dan hidup.

Dalam al-Quran diceritakan bahwa di alam ruh kita semua (yang pernah hidup di dunia dan akan hidup di dunia) dikumpulkan dan ditanya oleh Allah Swt: “Alastu bi robbikum (Apakah Aku ini Tuhanmu?)”, kemudian kita semua menjawab dengan jawaban yang sama: “Bala syahidna (Benar, kami menyaksikannya)”. Dalam imajinasi saya, di alam ruh tidak dikenal urutan kakek-ayah-anak-cucu-dst. Sangat mungkin bahwa cucu saya di alam ruh sempat berteman dengan ruh saya bahkan dengan ruh kakek saya. Hanya ketika diturunkan ke bumi menjadi serial (ada urut-urutannya). Jadi bisa saja, salah satu kawan ruh saya malah menjadi ayah saya, kawan yang lain malah jadi anak saya. Ketika ruh saya dan ruh anak saya belum turun ke bumi sedangkan ruh ayah saya sudah turun, ruh saya dan ruh anak saya (barangkali) ngobrol. Ruh anak saya tanya: “Kalau ruh Nila Santana (nama di dunia ayah saya) ke mana ya?”. Barangkali ruh saya menjawab begini: “Ruh Nila Santana sudah mati, sudah almarhum, sudah pindah ke dunia”. Nah lho! Jadi apa dong yang disebut dengan mati itu?

Sebelum ke dunia ruh itu sempat mampir ke alam yang singkat, namanya alam rahim. Di alam rahimlah mulainya ruh disatukan dengan jasad. Saya agak kesulitan mengilustrasikan alam rahim ini. Apakah ketika di alam rahim ada teman-teman yang bisa saling berkomunikasi? Supaya gampang, kita bayangkan di rahim ibu ada 2 anak kembar, yang memungkinkan mereka berkomunikasi dengan bahasa alam rahim. Ketika yang sulung lahir ke dunia, yang tertinggal di rahim tinggal adiknya. Kira-kira apa yang dipikirkan adiknya? Mungkikah dia berfikir bahwa kakaknya sudah wafat, sudah almarhum, sudah meninggalkan alam rahim dan berpindah ke alam dunia? Who knows?

Bayangkanlah seorang anak kecil, usia 7 tahun, kelas 2 SD. Karena hidup di jaman sekarang, di mana HP, Blackberry, iPod, iPhone, dan iPAD ada di sekelilingnya, anak kecil itu sudah sangat familiar dan sangat menikmati teknologi tersebut. Dia juga kadang buka-buka youtube untuk melihat konser-konser Justin Bieber dan artis-artis terkenal lain yang menjadi kesukaannya. Dia sekarang sedang menunggu kelahiran adiknya yang kedua (adik pertemanya usia 4 tahun). Ibunya sudah 2 hari di Rumah Sakit, sudah 2 hari dia pulang sekolah langsung ke rumah sakit. Dia heran, kenapa adiknya nggak mau lahir ke dunia? Bukankah dunia ini sangat indah dan sangat berwarna. Kita bisa main BB, main game di iPAD, bisa lihat Justin di youtube. Ah, adikku tidak tahu kenikmatan di dunia makanya dia ingin tetep tinggal di alam rahim. Memang sih alam rahim itu alam kasih sayang, tapi kan nggak serame di dunia. Di dunia inilah kita juga bisa lihat hebatnya Lionel Messi dengan Barcalonanya. Kalau lagi bagus, Real Madrid, AC Milan, MU, dan Asenal juga enak ditonton. Lebih hebat lagi nonton Persib di Jalak Harupat. Kurang apa dunia dibanding alam rahim? Mungkin itu bayangan anak kecil yang sedang menanti kelahiran adiknya itu.

Sekarang posisikanlah diri kita di alam barzah (boleh juga kita bayangkan langsung di alam akhirat). Misalnya kita termasuk orang-orang yang beruntung masuk surga dengan segala kenikmatan dan kasih sayang Tuhan di dalamnya. Ketika kita hidup dengan segala kemewahan dan kenikmatan di akhirat, kita akan terheran-heran membayangkan orang-orang di dunia yang sangat takut mati, tidak mau pindah ke akhirat. Di dunia masih sering menemui kegagalan: putus cinta, karir macet, gaji pas-pasan, Liverpool gagal merajai ESL, dan yang lebih menyakitkan lagi Persib kembali gagal jadi juara ISL (sudah belasan tahun nunggu jadi juara kembali). Banyak kekecewaan. Sementara di akhirat, segalanya menyenangkan, tidak akan ada kesedihan. Kecanggihan teknologi di dunia, seperti internet, alat transportasi super cepat, iPAD, facebook, twitter, youtube, dll, jadi terkesan sangat jadul ketika melihat kecanggihan akhirat. Barangkali herannya kita (melihat manusia di dunia takut mati) lebih besar ketimbang keheranan anak SD yang melihat calon adiknya tidak mau pindah ke dunia. Jadi, mengapa kita harus takut dengan akhirat? Kematian hanyalah pintu menuju keabadian (akhirat).

Mengapa kita takut mati? Kita takut mati, mungkin, karena kita takut akan neraka. Mengapa harus takut akan neraka? Karena neraka merupakan tempat terburuk yang pernah ada, penuh dengan penderitaan yang berkepanjangan. Sampai kapan penderitaan di akhirat akan berakhir? Tidak tahu, wallahu’alam. Apakah penderitaan di akhirat mungkin berakhir? Sangat mungkin. Mengapa? Karena Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kasih sayangNya jauh melebihi azabNya. Mungkin ilustrasi berikut akan sangat membantu memahaminya.

Maghrib hampir tiba. Seorang ibu memanggil-manggil anak-anaknya. Tiga anak laki-lakinya sedang bermain sepakbola (dengan teman-temannya) di salah satu kolam yang baru tiga hari lalu dikeringkan. Mereka sudah bermain sejak waktu ashar tadi, sudah hampir 2 jam. Tanah di bekas kolam itu masih agak basah sehingga mereka sangat kotor. Ibu itu menyuruh mereka segera kembali ke rumah. Beberapa menit kemudian ketiga anaknya datang. Yang satu datang sudah bersih. Kelihatannya dia langsung mandi di kolam sebelahnya. Melihat anaknya sudah bersih, ibunya senang dan menyuruhnya segera masuk. Yang kedua lumayan bersih tetapi masih ada beberapa bagian yang kotor. Ibu menyuruhnya untuk membersihkannya. Setelah bersih baru diperbolehkan masuh rumah. Yang ketiga agak parah. Memang anaknya agak bandel. Dia datang dengan badan yang masih penuh dengan lumuran kotoran tanah kolam. Ibunya marah besar. Dia marahin anak itu, dia gusur ke kamar mandi, dia jewer, dia gosok sampai bersih. Ketika dimandikan anak itu ketakutan dan kesakitan. Anak itu menangis termehek-mehek. Anak itu dihukum.

Setelah selesai dihukum, anak ketiga itu akhirnya diperbolehkan masuk rumah yang bersih. Meski terlambat dibanding dua yang lainnya, dia juga diberi makan malam meski lebih sedikit (karena sisa dua lainnya). Mengapa ibunya mengijinkannya masuk ke rumah yang “suci” dan memberi “hidangan”, padahal anak itu kotor dan bandel? Itu terjadi karena ibu memiliki kasih sayang yang besar. Meski dia menghukum, hukumannya hanya sesaat saja dan sesungguhnya untuk kebaikan si anak itu. Dalam jangka panjang, kasih sayang ibulah yang ada.

Jika kasih sayang ibu saja bisa menyelamatkan anak tersebut, bagaimana mungkin Allah Swt yang Maha Penyayang membiarkan mahluknya dalam penderitaan selama-lamanya. Kasih sayang Allah Swt tentunya tidak bisa dibandingkan dengan kasih sayang orang tua. Kasih sayang Allah maha luas, tak berbatas. Dalam konteks seperti ini, kita bisa memaknai “hukuman di neraka” sebagai kasih sayang Allah Swt. Untuk masuk rumah orang tua saja si anak harus “suci”, bagaimana mungkin untuk masuk rumah Allah (surga) kita masih berlumuran dosa. Proses di neraka adalah proses pencucian dan pensucian diri. Orang-orang yang “mampir” ke neraka adalah mereka yang “dijewer” dan “digosok” sampai bersih. Mungkin itu sebabnya dalam al-Quran keabadian neraka dan surga menggunakan istilah yang “sedikit berbeda”. Keabadian neraka menggunakan istilah “kholidina fi ha (kekal)”, sementara di surga “kholidina fi ha abada (kekal abadi)”. Tentu bukan tanpa sengaja Allah Swt menggunakan istilah yang berbeda. Mungkin neraka itu kekal hanya untuk menunjukkan betapa lamanya dibandingkan kehidupan dunia, sementara di surga kekal-abadi menunjukkan lamanya dibanding kekalnya neraka sekalipun. Neraka menjadi sesaat jika dibandingkan kekal-abdi di surga. Wallahu’alam.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk “meremehkan” urusan mati dan neraka. Tulisan ini hanya memberikan alternatif perspektif terhadap mati dan neraka. Kita takut mati, itu adalah hal yang wajar. Ketika kita takut mati, maka sesungguhnya kita ingin abadi (hidup selamanya). Adanya keinginan atas keabadian, menunjukkan adanya keabadian itu sendiri (maaf agak rumit difahami). Sederhananya begini, ketika kita merasa haus maka rasa haus itu sendiri menunjukkan adanya air. Tidak mungkin Tuhan memberikan rasa haus kalau tidak disediakan penawar hausnya (air). Ketika kita merasa lapar maka itu menunjukkan adanya makanan. Tidak mungkin kita lapar sementara Tuhan tidak menciptakan makanan.

Terakhir, ketika sesorang wafat biasanya kita berucap “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un – Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali.” Siapapun kita, apapun kita, kita semua akan kembali kepada Allah Swt. Adakah tempat yang lebih baik dari selain kembali kepada Allah Swt? Tentu saja tidak ada. Hanya kebahagianlah yang akan kita temui ketika kita “sudah kembali” kepada Allah Swt. Kasih sayang Allah-lah yang akan meliputi kita semua. Jadilah kita sebagai anggota komunitas The Al-Marhum (yang dikasihi Allah Swt). Amiin. Wallahu’alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *