Kenaikan Harga BBM, mengapa harus diterima?

Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.

Ajaran di atas sudah dipahami oleh semua orang. Sayangnya pemahaman ternyata tidak selalu sejalan dengan pengamalan. Subsidi pada prinsipnya adalah bantuan. Apakah kita pantas menerima bantuan? Jika kita orang miskin tentu saja kita pantas mendapatkannya. Celakanya, banyak diantara kita hanya merasa sebagai orang miskin. Bukan orang miskin yang sesungguhnya. Dengan merasa miskin saja, kita sudah merasa pantas jadi penerima subsidi. Apa buktinya? Apakah para pemilik mobil pantas disebut sebagai orang miskin? Tidak. Lihat di SPBU, lebih banyak mobil pribadi yang ngantri beli Premium ketimbang Pertamax. Padahal jelas-jelas di setiap SPBU Pertamina membuat spanduk yang menjelaskan bahwa BBM bersubsidi (Premium dan Solar) hanya untuk orang-orang miskin. Ketika beli bensin, orang kaya, orang pandai, orang shaleh jadi pura-pura buta huruf dan tidak bisa membaca pesan dari Pertamina tersebut. Orang-orang kaya pura-pura miskin, orang-orang pintar pura-pura bodoh, para agamawan (ustadz, pendeta, dll) pura-pura tidak tahu halal-haram. Semuanya hanya menjalankan apa yang sudah disebutkan Adam Smith ratusan tahun yang lalu, “People response to incentive”. Selama menguntungkan dirinya, orang akan melakukannya. Untuk kasus ini semua orang menjadi merasa layak menjadi “mustahik” – sebagai penerima zakat (orang miskin yang layak diberi bantuan).

Jadi, siapa yang seharusnya menikmati BBM bersubsidi (Premium atau Solar)? Tentu saja harus benar-benar orang miskin. Secara sederhana representasi orang miskin adalah para pemakai kendaraan umum (yang tidak memiliki kendaraan pribadi). Kendaraan dengan nomor plat kuning saja yang layak dapat subsidi, misalnya angkot, bis, dan truk (pengangkut barang). Selebihnya harus membeli bahan bakar non-subsidi. SPBU harus menolak kendaraan selain plat kuning untuk membeli BBM bersubsidi. Pemerintah harus mengawasi agar supir angkota, bis, dan truk tidak melakukan “reselling”. Pemerintah (Polisi) harus mencegah jangan sampai kendaraan umum tersebut kerjanya hanya beli BBM bersubsidi kemudian menjualnya kepada pemilik kendaraan pribadi. Nah, itu yang tidak terjadi di Indonesia. Penikmat utama BBM bersubsidi adalah orang kaya, pemilik kendaraan pribadi. Artinya, subsidi jauh melenceng dari sasaran yang seharusnya. Padahal, seandainya orang-orang kaya, orang-orang pandai, dan orang-orang shaleh mengubah perilakunya dari penikmat BBM bersubsidi menjadi pembeli BBM non-subsidi, maka kenaikan BBM tidak perlu dilakukan. Masalahnya, mengubah perilaku jauh lebih sulit ketimbang mengubah harga BBM.

Ketika menyusun APBN 2012 pemerintah mengasumsikan harga minyak dunia USD 90 per barel. Dengan asumsi tersebut, pemerintah mengalokasikan subsidi bahan bakar sebesar Rp 123,56 triliun. Posisi akhir Pebruari harga minyak dunia sudah menyentuh harga USD121,75 per barel, lebih tinggi 35% dari asumsi. Dengan demikian, jika harga BBM tetap maka beban subsidi akan meningkat sekitar 35%, atau sebesar Rp 45,6 Triliun menjadi Rp 169 triliun. Nah, supaya beban subsidi BBM tidak meningkat maka terpaksa pemerintah harus menaikan harga BBM. Berapa kenaikannya? Untuk menutup defisit anggaran subsidi sebesar Rp 45,6 triliun pemerintah harus menaikkan harga BBM bersubsidi sebesar 35% juga, atau untuk kasus Premium meningkat sebasar Rp 1.586,- supaya kelihatan sederhana naiknya hanya Rp 1.500,-. Dengan kata lain, jika harga Premium menjadi Rp. 6.000,- maka beban anggaran subsidi BBM tidak akan meningkat (tetap Rp 123,56 triliun.

Apa yang terjadi kalau BBM tidak dinaikkan? Yang pasti pemerintah harus mencari uang tambahan sebesar Rp 45,6 triliun untuk mensubsidi para orang kaya tersebut (pemilik kendaraan pribadi). Dari mana uangnya? Kalau potensi pendapatan dalam negeri sudah terhitung dengan benar, artinya tidak ada lagi peluang meningkatkannya, maka mencari pinjaman menjadi solusi paling sederhana. Apa ada negara asing yang mau membantu memberi pinjaman untuk subsidi? Kalau uang pinjaman itu untuk alat produksi tentu saja sangat bermanfaat (banyak orang miskin dapat kerjaan), tapi kalau pinjaman itu hanya untuk konsumsi orang-orang kaya tentu saja hanya menjadi kesia-siaan saja. Mau sampai kapan negara salah mensubsidi (orang kaya)?

BBM naik, inflasi naik? Sangat mungkin, tapi sebetulnya yang paling dirugikan dengan kenaikan inflasi adalah orang-orang kaya. Mengapa? Karena nilai real kekayaannya akan turun. Pintarnya orang kaya adalah mereka pintar berpura-pura tidak ada masalah dengan kenaikan inflasi tersebut. Dengan media (yang dimilikinya), para orang kaya malah menunjukkan penderitaannya orang miskin. Apakah benar?

Bagi orang miskin, inflasi sebenarnya memiliki makna bahwa supply uang lebih banyak dari barang (harga barang akan naik). Dengan kata lain, ada peluang bagi industri untuk menambah produksinya. Kalau industri meningkatkan produksinya, maka ada peluang pekerjaan. Ini jadi semacam “blessing in disguise”, berkah yang tersembunyi. Sayangnya rantai ini tidak dipahami orang-orang miskin.

Jadi kita harus menolak atau mendukung kenaikan harga BBM? Terserah, yang paling penting gunakan akal sehat.

Salam,
Yusuf B. Nila Santana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *