FILSAFAT ILMU dan POHON ILMU PENGETAHUAN

Wajah dunia saat ini (konon) hanya ditentukan oleh dua orang: Nabi dan Filosof. Selebihnya hanya melaksanakan apa yang sudah “dirancang” oleh mereka berdua. Seperti bangunan rumah yang hanya dibangun oleh dua orang yaitu arsitek dan sipil, sementara yang lainnya hanya sebagai “tukang” dan “laden”. Perumpamaan tersebut menunjukkan posisi strategis Nabi dan Filosof dalam konteks kehidupan di dunia ini. Dari Nabi dan Filosof yang sampai pada kita pada hari ini adalah “ajarannya” atau “ilmu pengetahuannya”. Karena itu, pengetahuan yang diajarkan oleh mereka juga menempati posisi yang sangat strategis dalam dunia ini.

Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang pengalaman hidup dengan tujuan mendapatkan hakikat/pengertian yang mendasar secara kritis refleksif, rasional reflektif. Filsafat tidak membatasi objek materialnya tetapi hanya membatasi objek formalnya. Manusia, misalnya sebagai objek material, bisa dipelajari dari berbagai sudut pandang: Biologi, Kedokteran, Psikologi, dll (termasuk Filsafat). Sudut pandang pembahasan inilah yang disebut sebagai objek formal. Objek formal ialah cara pendekatan pada suatu objek material yang sedemikian khas sehingga mencirikan, atau mengkhususkan bidang kegiatan bersangkutan, baik itu pengetahuan, agama, ataupun kesenian, dan sebagainya. Objek formal Filsafat adalah berusaha mendapatkan ‘hakikat’ sesuatu. Dengan demikian, kekhususan dan ciri khas filsafat dapat dijelaskan, kalau objek formalnya ditentukan.

Jika filsafat ditempatkan dalam konteks hidup orang yang beriman, maka lahirlah cabang filsafat, yakni filsafat ketuhanan. Dengan cara yang sama, tampillah cabang-cabang filsafat lainnya: filsafat manusia dan filsafat alam. Ketiga cabang filsafat tersebut sebenarnya tak boleh dipisahkan satu sama lainnya, karena manusia, alam dan ketuhanan disoroti menurut sebab-musabab terakhir yang selalu meliputi ketiga cabang tersebut.

Selain ketiga cabang filsafat tersebut masih ada filsafat lain yang memberi arah sehingga dinamika filsafat sebagai proses ‘pengembaraan menuju’ harapan yang baik dapat terwujud. Filsafat tersebut adalah Etika. Etika menyoroti tingkah laku manusia agar ia hidup dan berperilaku dengan baik. Pembagian cabang-cabang filsafat ini belum selesai, karena sorotan pembahasan atas manusia, alam, ketuhanan dan patokan-patokan etis harus terjadi secara benar. Hal ini melahirkan satu cabang filsafat lagi, yakni filsafat pengetahuan.

Berbeda dengan ilmu emprisi, Filsafat tujuannya bukan pada fenomena. Seperti kita ketahui Ilmu Empiris berbicara tentang fenomena, menganalisis dan membandingkan fenomena, mengambil kesimpulan dari fenomena-fenomena tersebut. Pada akhirnya ilmu empiris merumuskan hukum-hukum yang berlaku pada fenomena tersebut. Filsafat berbicara tentang apa yang ada di belakang fenomena (meta-fenomena), menembus batas-batas fenomena, dan mencari prinsip-prinsip yang mendasari fenomena. Misal, apa yang hakiki dari manusia? Aristoteles menjawabnya dengan menyebut makhluk yang rasional. Karl Marx menyebutnya dengan makhluk yang bekerja.

Kalau kita menyelidiki apa yang dapat kita saksikan di luar dan di dalam diri kita, ternyata tidak pernah satu pengetahuan pun memuaskan hati atau akal budi manusia secara tuntas. Artinya, segala hasil pengetahuan bersifat sementara dan terbuka. Itulah ciri khas pengetahuan yakni bertanya sambil mencari, yang merupakan sintesis tiada henti antara “sudah tahu” dan “belum tahu”.

Setiap tindakan pengetahuan menyiratkan adanya gejala “kesadaran akan pengetahuan”. Apabila unsur tersirat itu diucapkan menjadi tersurat, maka terjadilah apa yang disebut refleksi. Berkat refleksi, pengetahuan kehilangan kelangsungan dan spontanitasnya, tetapi serentak pengetahuan itu mulai cocok untuk diatur secara sistematis sedemikian rupa sehingga isinya dapat dipertanggung-jawabkan. Untuk hal tersebut, setiap ilmu menyusun model.

Ada dua model yang pada dasarnya saling melengkapi, yaitu: Pertama, manusia mau semakin mendekati apa yang merupakan objek pengetahuan ilmiah ataupun mau menarik objek itu kepadanya. Agar pendekatan ini semakin berhasil, si ilmuwan membuat suatu model lahir dan nyata. Yang diharapkan ialah suatu pengertian berdasarkan pemandangan model yang berbentuk gambar maupun bermatra (dimensi) tiga. Penyederhanaan ini merupakan suatu abstraksi, tetapi objek yang dipelajari itu semakin masuk akal.

Kedua, manusia mau semakin mengerti apa yang merupakan objek pengetahuan ilmiah, seolah-olah hendak memasuki susunan objek yang sedang dipelajari itu sedalam-dalamnya. Dengan demikian, diharapkan akan didapatkan pengertian yang berasal “dari dalam”. Pengertian “dari dalam” itu biasanya terjadi dalam ilmu-ilmu yang suka memakai rumus-rumus matematis sebagai model. Model itu disebut model abstrak.

Model pertama mewakili kelompok ilmu yang mementingkan pengamatan dan penelitian, yang disebut empiris, atau aposteriori (segala ungkapan ilmu-ilmu bersangkutan baru terjadi sesudah pengamatan). Tokoh paling awalnya Aristoteles.

Model kedua mewakili kelompok ilmu yang seakan-akan ingin segera menangkap susunan keniscayaan yang mendasari segala kenyataan secara apriori (ilmu-ilmu ini ingin menentukan apa kiranya yang mendahului adanya segala kenyataan itu). Tokoh paling awalnya Plato.

Menurut Plato, satu-satunya pengetahuan sejati ialah apa yang disebutnya episteme, yaitu pengetahuan yang tunggal dan tak berubah, sesuai dengan idea-idea abadi. Di dunia yang fana ini hanya terdapat bayangan dari yang baka. Bayangan itu banyak, bermacam-macam dan tak henti-hentinya berubah. Apabila manusia mengamati bayangan-bayangan itu, maka teringatlah ia akan idea-idea yang pernah dipandangnya dulu sewaktu belum masuk penjara badannya. Maka, pengetahuan yang dicita-citakan Plato itu ditafsirkannya sebagai hasil ingatan yang melekat padanya (jadi, apriori). Dan ingatan itu berlangsung berdasarkan intuisi yang pernah dialami jiwanya. Menurut Plato, kelompok ilmu yang bersifat paling apriori adalah ilmu pasti. Karena itu ilmu pasti dijadikan syarat mutlak untuk dapat berilmu. Semboyan sekolah Plato berbunyi: “Yang tak berpengalaman dalam matematika dilarang masuk”.

Aristoteles, murid Plato, mengganti konsep ‘ingatan’ dan ‘intuisi’-nya Plato dengan abstraksi. Menurut dia, tercapainya pengetahuan sebagai hasil kegiatan manusia yang mengamati kenyataan yang banyak dan yang berubah, lalu melepaskan unsur-unsur “universal” dari yang “partikular”. Sambil meneruskan jalan abstraksi, manusia itu akan semakin meninggalkan bidang inderawi, hingga akhirnya mencapai episteme sebagai pengetahuan sejati.

Dalam pengetahuan episteme itu manusia tidak hanya tahu “tentang” melainkan juga “mengapa” terdapatnya atau terjadinya sesuatu. Dengan demikian, Aristoteles bertolak dari pengamatan dan penelitian aposteriori dan menggabungkannya dengan model apriori. Sedangkan Plato mengutamakan model ilmu apriori.

Jadi, perbedaan antara pengetahuan dan ilmu pengetahuan terletak pada sifat teratur dan sistematis yang nampak dalam ilmu pengethuan agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara teoritis dan reflektif. Dengkan kata lain, cara kerja atau metode ilmu pengetahuanlah yang menjadi ciri ilmu, kalau dibandingkan dengan pengetahuan sehari-hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *