Memberi Manfaat

Saya merasa menjadi orang yang beruntung. Salah satu keberuntungannya adalah memiliki temen-temen SMA yang berhasil (khususnya secara finansial). Diantara yang sukses itu ada yang sudah bisa memiliki rumah di Pondok Indah Jakarta. Saking kayanya, biasanya dia menjadi sponsor tunggal untuk reuni dan halal bi halal tahunan angkatan saya. Dia bayar tempat acara (biasanya di hotel) dan makanannya, sementara kita-kita hanya memberi sumbangan. Uang sumbangan itu kemudian diserahkan ke sekolah kami dulu.

Waktu reuni SMA tahun 2012, saya ketemu temen yang sudah lebih dari 15 tahun tak ketemu. Saya terkagum-kagum dengan obrolannya. Waktu SMA, dia dipanggilnya Juragan Mesum. Saya tidak tahu persis mengapa dipanggil demikian. Dugaan saya mungkin dia dulunya “agak nakal”, tapi sekarang dia sangat lain. Orangnya sangat “wise”. Saya sampai nanya: “Koq kamu berubah banget sih?”. Saya bilang: “Mungkin kamu berubah karena istrimu, temen sekelasnya SMA, anak guru agama sehingga kamu banyak dinasihatin. Jadilah kamu seperti sekarang ini”. Tapi menurut dia, bukan istri dan mertuanya yang banyak mengubahnya. Waktu dan permenunganlah yang mengubahnya.

Dia cerita bahwa ketika lulus dari perguruan tinggi seseorang akan membanggakan institusi tempatnya dia bekerja. Ada yang bekerja di BI, Citibank, World Bank, Telkom, Telkomsel, Indosat, dll. Tetapi setelah 5-10 tahun, ketika ketemu, yang didiskusikan tidak lagi institusinya melainkan ‘posisinya’. Kita tidak bangga lagi kerja di Telkom kalau posisi kita dalam 10 tahun masih band 4. Itu malah terasa menyakitkan. Lain halnya kalau kita sudah di band 2 atau bahkan 1. Kita senang mendiskusikan kerja dan karir.

Lewat 15-20 tahun, yang didiskusikan sudah berubah lagi. Kita sudah akan cerita tentang ‘anak-anak’. Dimana sekolahnya atau sudah di mana kerjanya, dll. Kita sudah mulai menggeser perhatian, dari diri kita ke orang-orang terdekat kita. Tetapi kita masih terikat dengan “kepentingan” kita. Nah, ketika memasuki usia 45-50 tahunan, kita sudah mulai mendiskusikan tentang “penyakit” yang sudah datang pada diri kita. Gimana asam uratnya, kolesterolnya berapa, tekanan darahnya, ginjal, dll. Karena sudah datang penyakit, kita mulai berhitung dengan masa ‘depan’ kita. Setelah sukses berkarir di dunia ini, kita mau apa lagi? Mulailah kita mencoba berakrab dengan Tuhan. Mungkin bahasa orang desa di Gunung Kidul: “Kapan kita bisa jagongan dengan Tuhan“.

Kita akan beruntung kalau bisa mengakrabi Tuhan tanpa menunggu masa-masa sakit datang. Justru ketika masih kuat, masih banyak yang bisa dilakukan, kita mulai berfikir: “Apa yang bisa saya lakukan untuk memberi manfaat untuk yang lain?“. Mulailah dengan mendirikan Yayasan, menjadi orang tua asuh, dll. Kalau itu yang kita lakukan, berarti kita ingin menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk memberikan kebaikan. Alhamdulillah.

Saya ingat teman kerja saya di Telkom (Pusteksi) dulu. Dulunya di PUSTEKSI dan kemudian dipindahkan ke TELKOMSEL. Kalau agama itu didefinisikan sebagai fiqh, jaman di Pusteksi teman saya ini bukan termasuk orang yang taat. Kalau tidak salah, sholat dan puasa rasanya biasa dilewat saja. Tapi itu dulu.

Ketika beberapa tahun setelah beliau di Telkomsel, saya dapat cerita bahwa beliau telah sangat berubah. Dia telah melakukan “redefinisi” hidupnya. Dia sangat shaleh. Saya selalu terkagum pada orang-orang yang berubah sangat drastis. Karena penasaran, saya coba cari-cari telponnya. Dan karena dia jadi pejabat di Telkomsel Jawa Barat, saya mudah mendapatkannya. Saya telpon dan ngobrol. Saya hanya ingin denger pengalaman dia saja. Terakhir, sebelum tutup telpon, saya bilang: “Pak, kalau sedang mencari Tuhan datanglah ke tempat saya telpon saat ini. Kayaknya Tuhan ada di sekitar saya ini”. Dia ketawa saja. Saya memang guyon tetapi tidak sepenuhnya salah. Saat itu saya sedang di sebuah pesantren, yang santri-santrinya mungkin hampir 100% berasal dari kalangan orang miskin. Ada sebuah hadits yang berbunyi: “Carilah Aku (Tuhan) diantara orang-orang miskin“. Itulah dasar ucapan saya kepada beliau.

Wallahu’alam.

Salam,
Yusuf B. Nila Santana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *