Nuzulul Qur’an di Indonesia: Berdamai dengan Kekeliriuan

Beberapa hari sebelum Ramadhan mahasiswa IMT dari Gamus datang ke tempat saya. Mereka cerita tentang rencana kegiatan Gamus selama bulan Ramadhan. Rencana kegiatannya sangat bagus. Di akhir obrolan, mereka cerita bahwa puncak kegiatan akan dilaksanakan pada Malam Nuzulul Qur’an.

Seperti biasa, kenakalan kritis saya muncul. Saya tanya, “kapan itu?”. Mereka jawab dengan ringan: “ya tanggal 17 Ramadhan”. Kembali saya tanya, “Mengapa memilih tanggal 17 Ramadhan?”. Dengan tidak kalah ringannya dari jawaban sebelumnya mereka menjawab: “Ya kan memang Nuzulul Qur’an tanggal 17 Ramadhan”. Sekali lagi seperti biasa (saya belum bisa menghilangkan kebiasaan jelek), saya ledek pada mereka: “Kalian sudah lulus mata kuliah Agama Islam, aktif di Gamus, tiap minggu mungkin ikut pengajian, tapi urusan Nuzulul Qur’an masih juga salah”. Mereka bengong. Saya jelaskan argumentasinya. Ini kira-kira argumentasi saya kepada mereka.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa Al-Quran diturunkan (untuk pertama kali) di malam lailatur qadr. Banyak sekali hadits yang menerangkan bahwa malam-malam qadr itu adalah 10 malam ganjil terakhir pada bulan Ramadhan. Nah, Ramadhan itu biasanya hanya 29 atau 30 hari. Tidak pernah lebih. Kalau kita pakai matematika sedikit maka malam lailatul qadr berada diantara 20-30 atau 19-29. Sulit dicari rujukan yang bisa menjelaskan bahwa Nuzulul Qur’an itu jatuh pada tanggal 17 Ramadhan. Dalam Hadits tidak ditemukan, dalam Al-Qur’an apalagi. Pakai pendekatan matematika juga gagal dipenuhi. Tapi di Indonesia koq biasa diperingati seperti itu. Itu argumentasi saya pada mahasiswa. Saya jadi inget potongan lagu kebangsaan: “Itulah Indonesia”.

Sependek ingatan saya, selain tentang Nuzulul Qur’an keajaiban lain Islam Indonesia adalah tentang keyakinannya akan jumlah ayat Al-Qur’an. Sejak di sekolah dasar (SD), kebanyakan dari kita diajarkan bahwa jumlah ayat al-Qur’an adalah 6.666 ayat. Setiap ada ulangan agama, baik di SD, SMP, SMA bahkan PT, yang menanyakan jumlah ayat al-Qur’an dan kita menjawabnya dengan angka tersebut maka jawaban kita (dianggap) benar. Sampai ketika jaman kalkulator ada, kemudian diikuti dengan adanya Excel di komputer, untuk membantu menghitung ayat Al-Qur’an, tetap saja jumlah ayat itu disebutnya 6.666 ayat. Memang sih angkanya manis, mudah diingat, tapi sebetulnya salah kaprah.

Kayaknya riwayat tentang jumlah ayat dan Nuzulul Qur’an tanggal 17 Ramadhan tiu berasal dari orang yang sama, yaitu Presiden Sukarno. Mungkin Presiden Sukarno tahu bahwa orang Indonesia tidak terbiasa melakukan riset, bahkan untuk sekedar menghitung jumlah ayat sekalipun. Sukarno tahu bahwa ayat itu sekitar 6 ribuan. Nah, kalau diberi angka yang manis 6.666 kayaknya orang Indonesia akan menerima. Memiliki daya magis. Dengan keyakinan tidak ada yang coba melakukan riset (untuk mem-verifikasi), maka angka itu bakal diyakini kebenarannya. Nuzulul Qur’an juga sangat mungkin ditetapkan tanggal 17 untuk memberi kesan magis proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, yang (katanya) bertepatan dengan 17 Ramadhan. Nah bagi ummat Islam (yang merupakan mayoritas bangsa Indonesia) tentu saja Nuzulul Quran punya nilai sakral yang sangat tinggi. Spekulasi saya, Sukarno ingin member kesan yang sangat sakral akan tanggal proklamasi tersebut dengan menggandengkannya pada Nuzulul Qur’an. Dimunculkanlah tanggal tersebut sebagai Nuzulul Qur’an.

Aya-aya wae Pak Presdien teh. Dasar orang pinter!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *