wanita sholihat (7)

Bagi istri yang sholihat akan senantiasa tunduk dan thoat kepada suaminya, batasannya selama perintah suami tidak menerjang aturan2 Allah dan RasulNya.
Apabila suami perintah maksiat seperti contohnya :
1. Di suruh pergi ke dukun, mengalungkan jimat pada anaknya, ngalap berkah di kuburan dll, ingatlah saudara – saudaraku itu jelas syirik akbar dan syirik merupakan kedholiman yang sangat besar sebagaimana firman Allah :
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ سورة لقمن ١٣
Artinya : ” Dan (ingatlah) ketika itu Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran / nasehat kepada anak laki – lakinya : “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. QS. Luqman 13

2. Menyuruh untuk melakukan ke bid’ahan, seperti contohnya yaitu : tujuh bulanan ( bhs jawa : mitoni ), yaitu merupakan acara yang banyak di lakukan oleh masyarakat ketika calon ibu genap tujuh bulan mengandung si bayi, ini adalah salah satu dari sekian banyak amalan yang notabene tidak ada contohnya dari Rasulullah saw, kendatipun demikian ternyata masih banyak di kalangan masyarakat yang mengira bahwa itu sebagai ibadah sehingga mereka pun bersemangat dalam mengerjakannya, padahal bila seseorang melakukan suatu amalan yang di tujukan untuk ibadah, sementara di dalam hadist Nabi Muhammad saw tidak pernah mencontohkannya, maka amalan ini secara dalil qur’an dan hadist adalah amalan yang akan mendatangkan dosa apabila di kerjakan. Ketika sang suami menyuruh istrinya melakukan amalan semacam ini, maka istri harus menolak dengan halus dan menasehati suaminya.

3. Memerintahkan untuk melepaskan jilbabnya.
Menutup aurat adalah merupakan kewajiban setiap muslimah, ketika suami memerintahkan istri untuk melepas jilbabnya maka hal ini tidak boleh untuk di patuhi dengan alasan apapun, misalnya sang suami menyuruh istri untuk melepaskan jilbabnya agar mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lumayan, hal ini tentu tidak boleh di patuhi, bekerja di perbolehkan bagi muslimah jika di butuhkan dengan syarat lingkungan kerja yang aman dari ikhtilat ( campur baur dengan laki – laki ) dan kemaksiatan, tidak di khawatirkan timbulnya fitnah, serta tidak melalaikan dari kewajiban sebagai istri yaitu melayani suami dan mendidik anak – anaknya, dan tetap berada di rumahnya adalah lebih utama bagi wanita, berangkat dengan dasar firman Allah ta’aala :
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا سورة الاحزاب ٣٣

Artinya : ” Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu dgn sungguh2 bersih.”
QS. Al-‘AÄ¥zāb 33

Allah swt telah memerintahkan muslimah supaya berjilbab, perintah Allah tidak pantas untuk di langgar, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada sang pencipta. Adapun perintah Allah muslimah berjilbab dalilnya di surat Al-‘AÄ¥zāb :
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا سورة الاحزاب ٥٩

Artinya : ” Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS. Al-‘AÄ¥zāb 59

4. Mendatangi / menjimak istri ketika haid ( menstruasi ) atau dari dubur.
Rahmat Allah begitu sangat luas sehingga hubungan suami istri menjadi sebagai sebuah shodaqoh, sebagaimana Rasulullah saw telah bersabda, artinya : ” Dan persetubuhan salah seorang kalian dengan istrinya adalah shodaqoh.” HR. Muslim

Bersenggama atau berhubungan intim suami istri boleh di lakukan dengan cara dan bentuk apapun, walaupun demikian, islam pun memiliki rambu – rambu yang harus di patuhi, yaitu suami tidak boleh mendatangi istri dalam keadaan haid dan dari arah dubur, sebagaimana Nabi telah bersabda :
حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَشْعَرِيُّ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ أَبِي الْمُغِيرَةِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ جَاءَ عُمَرُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ قَالَ وَمَا أَهْلَكَكَ قَالَ حَوَّلْتُ رَحْلِي اللَّيْلَةَ قَالَ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَالَ فَأُنْزِلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الْآيَةَ { نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ } أَقْبِلْ وَأَدْبِرْ وَاتَّقِ الدُّبُرَ وَالْحَيْضَةَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَيَعْقُوبُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَشْعَرِيُّ هُوَ يَعْقُوبُ الْقُمِّيُّ
رواه الترمذي
Artinya : ” Dari Ibnu Abbas ia berkata; “Umar datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata; “Wahai Rasulullah, binasalah aku.” Beliau bertanya: “Apa yang membuat binasa kepadamu?” Umar berkata; “Aku mengalihkan tungganganku tadi malam.” Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menanggapi apa pun, kemudian turunlah ayat: “Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.” QS Al-Baqarah: 223, menghadaplah ke depan atau belakang, dan jauhi dubur dan haid.” Abu Isa berkata; Hadits ini hasan gharib.” HR. Tirmidzi

Maka ketika suami mengajak istri bersetubuh lewat dubur atau dalam kondisi haid atau menstruasi hendaknya sang istri menolak dan menasehatinya dengan cara yang hikmah.

By: Ustad Yunus Syaifullah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *