Posisi orang Arab, Barat dan Indonesia

📢 Fenomena itu Ada ✅

copas tulisan seorang professor Warga Negara Indonesia, dosen di King Fahd University for Petroleum and Gas, Arab Saudi.

H. Sumanto Al Qurtuby
Riyadh, October 26, 2015 at 6:05 pm

Bismillaahi Robbil ‘Aalamiin…

Saya membuat tulisan ini, bukan untuk merendahkan bangsa saya, Indonesia Tercinta. Bukan pula menyerang Arab khususnya Arab Saudi tempat saya berdomisili saat ini.
Tapi saya untuk membangunkan teman-teman, kakak, dan adik-adik saya warga negara Indonesia dimana saja berada. Agar bisa memilih dan memilah, mana yang bisa dijadikan panutan/pedoman, serta mana pula yang harus diwaspadai. Harapan saya hanya satu, semoga Indonesia selalu dirahmati oleh Allah Tuhan Alam Semesta Pencipta langit dan bumi beserta segala isinya, dan anak-anak bangsa ini -termasuk saya- tidak menjadi bangsa yang inferior, tidak mudah kagum, dan tidak mudah menjadi beo.

Begini, saya melihat hubungan antara Arab (khususnya Arab Teluk), Barat (khususnya Amerika), dan Indonesia (khususnya yang pro-Arab) itu unik, menarik, dan lucu.

Negara2 Arab, khususnya Teluk itu “sangat Barat” dan jelas2 pro-Amerika (dan Inggris). Hampir semua produk2 Barat dari ecek-ecek (semacam restoran fast foods) sampai yg berkelas & bermerk untuk kalangan berduit, semua ada di kawasan ini.

Mall-mall megah dibangun, a.l., untuk menampung produk2 Barat tadi.

Warga Arab menjadi konsumen setia karena memang mereka hobi shopping (bahkan terkadang lalai dengan sembahyang).

Orang2 Barat juga mendapat “perlakuan spesial” disini, khususnya yang bekerja di sektor industri (gaji tinggi, fasilitas melimpah).

Mayoritas orang2 Arab juga sangat hormat & inferior dengan orang2 Barat.

Saya sering jalan bareng bersama “kolega bule”-ku ke tempat pameran barang-barang branded tsb, dan mereka menganggap saya adalah “jongosnya”.

Bagi orang2 Arab, non-bule darimanapun asalnya apapun agama mereka (Islam kah, Kristen kah) adalah “kelas buruh” sementara org bule–sekere & sebego apapun mereka, beragama atau tidak beragama–dianggap “kelas elit”. Mereka baru menaruh rasa hormat, kalau sudah tahu “siapa kita”.

Sejumlah universitas2 beken di Amerika juga membuka cabang di Arab Teluk, selain Saudi, (Georgetown, New York Univ, Texas A & M, Carnegie Melon Univ, dll). Di bawah bendera King Abdullah Scholarship, Saudi telah mengirim lebih dari 150 ribu warganya untuk belajar di kampus2 Barat, khususnya Amerika, Kanada & Eropa (jg Aussie). Tidak ada satu pun yang disuruh belajar ke Indonesia!!
Sementara (sebagian) warga Indo memimpikan belajar di Arab Saudi.

Lucunya, para fans Arab Saudi dan Arab-Arab lainnya di Indonesia, mereka mati-matian meng-tuan-kan Arab, sementara Arab sendiri tidak “menggubris” mereka.

Para “cheerleaders” Arab ini (para fans Arab di Indonesia)
juga mati2an anti-Barat padahal org2 Arab mati2an membela Barat. Saya bukan anti-Arab atau anti-Barat karena teman2 baikku banyak sekali dari “dua dunia” ini. Saya juga bukan pro-Arab atau pro-Barat. Saya adalah saya yang tetap orang kampung Jawa.
Daripada “menjadi Arab” atau “menjadi Barat”, akan lebih baik jika kita menjadi “diri kita sendiri” yang tetap menghargai warisan tradisi & kebudayaan leluhur kita…

Itulah orang Saudi, mereka menganggap kecil sama orang Indonesia, di hotel, di kantor, bahkan mrk menyangka saya cuma tenaga profesional ecek ecek, mereka tanya gaji, disangka cuma 2 ribu atau 3 ribu Real, waktu saya bilang jumlah gaji saya, mereka baru tahu gaji saya sama dengan orang Amerika atau Inggris, dan mereka tanya kok bisa begitu, saya bilang, saya pernah training di Inggris dan di Amerika, dan ternyata gaji saya lebih besar dari gaji dokter Saudi, itulah kenyataannya, dan yang menggaji saya perusahaan di Abu Dhabi yang tidak menganggap rendah karyawannya berdasarkan kebangsaan atau Nationality profiling.

Mudah mudahan  pemerintah tidak mengirim lagi tki atau tkw sehingga mereka tidak menganggap orang Indonesia  bangsa budak. Tetapi kirim tenaga terdidik Terutama yang menguasai bahasa Inggris.

Sekali lagi : Saya bukan anti Arab dan juga bukan anti Barat saya cuma orang Indonesia yang dipercaya sebagai orang yang bekerja sebagai tenaga ahli yang dibayar berdasarkan keahliannya. Hehehe

Suatu hari, dan ini bukan untuk menyombongkan diri, saya  merasa bangga ketika saya keluar dari sebuah hotel di Jeddah, saya dijemput oleh sopir orang Arab berasal dari Thaif. Itu kebanggaan saya, karena biasanya yg jadi sopir itu orang Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *