Mengenal “Nabi” Ekonomi

Saya mau cerita.Sebetulnya mau cerita mengenai dunia yang kita lihat hari ini, tetapi bingung memulainya harus dari mana. Karena itu, sebagai pengantar saya ingin memulai dengan cerita seorang tokoh paling penting dalam sejarah perekonomian dunia. Mungkin kita bisa menyebutnya sebagai Nabi-nya ekonomi yang mengantarkan kita ke era kapitalisme saat ini.

Pada 9 Maret 1776, penerbit London William Strahan meluncurkan dua jilid buku berjudul An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations, atau lebih dikenal sebagai the Wealth of Nations, yang ditulis oleh Dr. Adam Smith. The Wealth of Nations menjadi karya intelektual yang terkenal di seluruh dunia. Publikasi karya ini menjanjikan suatu dunia baru bagi semua orang – bukan hanya untuk orang kaya dan penguasa, tetapi juga untuk rakyat kebanyakan. Bahkan seringkali secara berlebihan, the Wealth of Nations dianggap sebagai buku paling penting yang pernah ditulis selain Bibel. Ringkasnya, The Wealth of Nations adalah semacam deklarasi kebebasan ekonomi (yang kebetulan dideklarasikan dalam tahun yang sama dengan Deklarasi Kemerdekaan Amerika, 4 Juli 1776).

Setelah menghabiskan waktu 12 tahun untuk menulis bukunya, Smith yakin bahwa dia telah menemukan jenis ekonomi yang benar untuk menciptakan “kemakmuran universal”. The Wealth of Nations telah menjadi “proposisi substantive” paling penting dalam ilmu ekonomi.Smith memasukan analisis sistematis perilaku individu yang mengejar kepentingan mereka dalam kondisi persaingan ke dalam pusat ilmu ekonomi. Dia menamakan modelnya sebagai “sistem kebebasan alamiah.” Dewasa ini para ekonom menyebutnya “model klasik.” Smith menggarisbawahi tiga karakterisitk dari sistem atau model klasik:
1. Kebebasan (freedom): hak untuk memproduksi dan menukar  (memperdagangkan) produk, tenaga kerja, dan capital.
2. Kepentingan diri (self-interest): hak seseorang untuk melakukan usaha sendiri dan membantu kepentingan diri orang lain.
3. Persaingan (competition): hak untuk bersaing dalam produksi dan perdagangan barang dan jasa.

Menurut Smith, ketiga unsur tersebut akan menghasilkan “harmoni alamiah” dari kepentingan antara buruh, pemilik tanah dan kapitalis. Doktrin tentang “harmoni alamiah” ini sering disebut sebagai “invisible hand”. Dari The Wealth of Nations inilah konsep tentang competition dan competitive markets bermula.
The Wealth of Nations selain menjadi buku paling penting dalam ilmu ekonomi moderen, dia juga menjadi pemicu lahirnya pemikiran-pemikiran baru ilmu ekonomi. Dari tiga karakteristik yang digarisbawahi oleh Adam Smith, konsep persaingan sempurna (perfect competition) mendapat perhatian yang paling banyak dari para ekonom generasi selanjutnya.
Secara sederhana, Adam Smith mendefinisikan kompetisi sebagai sebuah proses aktif dari respon atas tekanan-tekanan baru dan suatu metode untuk mencapai suatu equilibrium baru. Adam Smith mempersyaratkan lima kondisi untuk kompetisi:
1. Pesaing harus bertindak secara independen, tidak ada kolusi.
2. Jumlah pesaing harus memadai untuk menghilangkan extraordinary gains.
3. Unit-unit ekonomi harus memiliki pengetahuan tentang peluang pasar.
4. Harus ada kebebasan untuk bertindak yang didasarkan pada pengetahuannya.
5. Cukup waktu untuk menyalurkan sumberdaya ke arah dan kuantitas yang dibutuhkan pemiliknya.

Itu dulu ceritanya. Mudah-mudahan saya bisa melanjutkannya.

Salam,
Kang YusufB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *