Don’t judge a Book by Its Cover

Istilah tersebut sering kita dengar. Don’t judge a book by its cover, istilah yang bermakna jangan menilai sesuatu hanya dari cover / bagian luarnya .

Ketika kita berada dalam lingkungan yang baru , seperti halnya ketika saya memasuki dunia kampus, merantau , berada jauh dari orang tua untuk pertama kalinya. Banyak hal-hal baru yang saya jumpai. Orang-orang baru, budaya baru, juga bahasa yang cukup berbeda dari daerah saya berasal.

Memang pada kenyataannya itu yang bisa kita lakukan, untuk menilai sesorang yang baru kita kenal. Namun bagaimana dengan cara kita menilai seseorang yang sudah lama kita kenal? Apakah Cukup hanya menilai dari tampilan luarnya saja. Barang kali kisah berikut dapat menjadikan pelajaran bagaimana kita menilai seseorang ?

Ini adalah sepenggal kisah tentang Murad IV ketika menjadi Sultan Khilafah Utsmaniyah ke-17 (1623-1640). Dia hidup pada tahun 1021-1049H (1612-1640M). Dia diangkat menjadi Sultan Khilafah Utsmaniyah pada usia 11 tahun.

Di dalam buku hariannya Sultan Turki Murad IV mengisahkan, bahwa suatu malam dia merasakan kegalauan yang sangat. Ia ingin tahu apa penyebabnya. Maka ia memanggil kepala pengawalnya dan memberitahu apa yang dirasakannya.

Sultan pun mengajak kepala pengawal untuk keluar istananya sejenak. Di antara kebiasaan sang Sultan adalah melakukan blusukan di malam hari dengan cara menyamar. Mereka pun pergi, hingga tibalah mereka di sebuah lorong yang sempit.

Tiba-tiba, mereka menemukan seorang laki-laki tergeletak di atas tanah. Sang Sultan menggerak-gerakkan lelaki itu, ternyata ia telah meninggal. Namun orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya tak sedikitpun mempedulikannya.

Kemudian Sultan memanggil mereka. Orang-orang itu tak menyadari kalau orang tersebut adalah Sultan.

“Mengapa orang ini meninggal tapi tidak ada satu pun di antara kalian yang mau mengangkat jenazahnya?” tanya Sultan.

“Siapa dia? Di mana keluarganya?” tanya Sultan lagi.

Salah seorang di antara orang-orang itu menjawab, “Orang ini zindiq, suka menenggak minuman keras dan berzina!”

“Tapi, bukankah ia termasuk umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?” sergah Sultan.

Sejenak orang-orang itu terdiam. Sesaat kemudian, mereka pun bergerak mengangkat jenazah untuk dibawa ke rumahnya.

Melihat suaminya meninggal, sang istripun pun menangis. Orang-orang yang membawa jenazahnya langsung pergi, tinggallah sang Sultan dan kepala pengawalnya.

Dalam tangisnya sang istri berucap pada jenazah suaminya, “Semoga Allah merahmatimu wahai Wali Allah. Aku bersaksi bahwa Engkau termasuk orang yang sholeh.”

Mendengar hal itu, Sultan kaget lalu bertanya, “Bagaimana mungkin dia termasuk wali Allah, sementara orang-orang membicarakan tentang dia begini dan begitu, sampai-sampai mereka tidak peduli dengan kematiannya?”

Sang istri menjawab, “Sudah kuduga pasti akan begini…”

“Setiap malam suamiku keluar rumah pergi ke toko-toko minuman keras. Dia membeli minuman keras dari para penjual sejauh yang ia mampu. Kemudian minuman-minuman itu dibawa ke rumah lalu ditumpahkannya ke dalam toilet, sambil berkata, ‘Aku telah meringankan dosa kaum muslimin’,” kisahnya.

Ia kemudian melanjutkan, “Dia juga selalu pergi menemui para pelacur, memberi mereka uang dan berkata, ‘Malam ini kalian sudah dalam bayaranku, jadi tutup pintu rumahmu sampai pagi”.

“Kemudian ia pulang ke rumah, dan berkata kepadaku, ‘Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa para pelacur itu dan pemuda-pemuda Islam’.”

“Orang-orang pun hanya menyaksikan bahwa ia selalu membeli khamar dan menemui pelacur, lalu mereka menuduhnya dengan berbagai tuduhan dan menjadikannya buah bibir. Suatu kali aku pernah berkata kepada suamiku, kalau kamu mati nanti, tidak akan ada kaum muslimin yang mau memandikan jenazahmu, mensholatimu dan menguburkan jenazahmu. Ia hanya tertawa dan berkata, ‘Jangan takut, bila aku mati, aku akan dishalati oleh Sultannya kaum muslimin, para ulama dan para Wali’,” tutup sang istri.

Mendengar itu semua, Sultan Murad pun menangis. Ia kemudian berkata, “Benar! Demi Allah, akulah Sultan Murad dan besok pagi kita akan memandikannya, menshalatkannya, dan menguburkannya”.

Demikianlah, akhirnya prosesi penyelenggaraan jenazah laki-laki itu dihadiri oleh Sultan, para ulama, para wali Allah dan seluruh masyarakat.

Hikmah:

  1. Jangan suka menilai orang lain dari sisi lahiriahnya saja atau menilainya berdasarkan ucapan orang lain. Sebab terlalu banyak yang tidak kita ketahui tentang seseorang, apalagi soal yang tersimpan di tepian paling jauh di dalam hatinya.
  2. Kedepankan prasangka baik terhadap saudaramu. Boleh jadi orang yang selama ini kita anggap sebagai calon penduduk neraka, ternyata penghuni Firdaus yang masih melangkah di bumi.
  3. Jadi, berhentilah berprasangka dan menggunjing seseorang sekalipun orang itu sangat kita kenal.

Referensi Kitab

  1. Kisah ini diceritakan kembali oleh Syaikh Al-Musnid Hamid Akram Al-Bukhary dari Mudzakkiraat Sultan Murad IV
  2. Kitab Al-Ushfiriyah h. 3

Penulis: Ustadz Syamsuri Halim

Suyatno Budiharjo

Suyatno Budiharjo

IKatlah Ilmu dengan Menuliskannya...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *