Pengalaman-Ku di Ruang Isolasi

Oktober 2020 mungkin pengalaman saya yang paling ‘Insecure‘ dimana saya harus menemani Ibu saya di ruang Isolasi setelah hasil SWAB menyatakan bahwa ibu saya Positif Covid-19. Karena keadaan Ibu saya yang lemah dan memiliki riwayat penyakit jantung secara sadar dan yakin saya memaksa untuk ikut menemani Ibu di ruang Isolasi bersama pasien Covid lainnya dengan syarat dan ketentuan berlaku.

Ruangan Isolasi di RS ini berada di ruangan yang dalam sehingga untuk keluar harus melewati 4 lapis pintu  agar bisa menuju lift. Perawat dan dokter yang masuk wajib mengguakan APD lengkap termasuk baju Hazmat. Dikamar Isolasi Ibu saya terdapat 7 Hospital Bed dalam satu ruangan dengan di pisahkan tirai plastik dan kain jadi kita tidak bisa melihat pasien disebelah maupun depan, pada saat itu yang terisi hanya 5 orang, namun banyak kamar lain yang terisi penuh.

Masker hampir tidak pernah lepas dari saya maupun pasien lain 24 jam full bahkan ketika tidur tentu saja dengan rutin ganti/harinya. Akses gerak saya hanya diruangan isolasi dan kamar mandi, tidak diperbolehkan untuk keluar. Walaupun saya bukan pasien tapi sudah seharusnya saya diperlakukan seperti pasien karena setiap hari kontak langsung tanpa menggunakan APD lengkap, dan saya terima itu dengan ikhlas.

For your information
Ketika ada rekan/saudara yang terkena Covid, mintalah hasil tes PCR nya dan lihat hasilnya, berapa total Ct yang terdapat dalam tubuh. Mengacu pada beberapa artikel yang saya baca Nilai Ct adalah banyaknya cycle saat grafik fluorescens menembus garis threshold. Semakin tinggi kadar virusnya, semakin cepat menembus garis threshold, sehingga nilai Ct-nya lebih kecil dibanding dengan spesimen dengan kadar virus yang lebih rendah. Singkatnya semakin kecil Nilai Ct semakin banyak jumlah virus yang ada di dalam tubuh. 

Nilai Ct Ibu saya 28.93 sedangkan pasien positif Covid yang OTG (Tanpa Gejala) kisaran 30 keatas. Jika Nilai Ct 35 pasien masih positif Covid hanya tidak bisa menularkan virusnya kepada orang lain. Orang yang dinyatan Negatif jika Ct nya >= 40.

Banyak hal menarik untuk diceritakan selama saya diisolasi baik suka maupun duka seperti terbangun di malam hari karna tangisan para perawat untuk pasien covid yang meninggal dunia. Kesedihan mereka terlihat jelas ketika pasien covid yang sehari-hari mereka rawat dengan sungguh-sungguh dan telaten kemudian meninggal dunia. Kesedihan pasien lain ketika berbicara dengan istri dan anaknya ditelpon. Keadaan pasien lain yang kondisinya semakin lemah setiap harinya. Pasien disebelah ibu saya yang seorang perawat di RS tersebut dan tertular dari pasien positif Covid.

Alhamdulillah hasil SWAB ke-dua ibu saya Negatif begitu juga dengan hasil SWAB saya sehingga kami diperbolehkan untuk pulang walaupun selama seminggu harus menjalani isolasi mandiri di rumah. Banyak hal yang saya pelajari ketika 2 minggu di ruang Isolasi, menurut saya motivasi terbesar untuk orang sakit dapat sembuh dan bangkit dari sakit adalah ketika banyak dukungan dari orang lain yang menyayangi dan selalu ada disamping kita untuk kesembuhan kita. itu yang saya lihat dari perkembangan kesehatan ibu saya maupun pasien covid yang lain.

Mungkin saya dan ibu saya beruntung banyak support baik secara moril maupun materi dari keluarga, tetangga, sahabat, teman, tempat saya bekerja, perawat, dokter.

Saya bersyukur ketika ada teman dan rekan yang mau mengantar saya ke rumah sakit tempat ibu saya dirawat dari jakarta.
Saya bersyukur diberikan sahabat yang hampir setiap hari Video Call hanya untuk menanyakan kabar ibu  & saya juga memberikan Support bahwa ini akan cepat berakhir.
Saya bersyukur memiliki keluarga yang setiap hari tanpa diminta memberikan segala keperluan saya maupun ibu saya, termasuk Video Call setiap hari dengan ibu.
Saya bersyukur bertemu perawat-perawat yang baik dan selalu memberikan motivasi kepada ibu agar bisa bertahan dan melalui ini semua.
Saya bersyukur mendapatkan dokter yang cepat tanggap dalam menghadapi keadaan ibu saya dan keluhan saya, dokter Donald pokonya terbaik dehh 🙂
Saya bersyukur tempat bekerja saya dapat mengerti dan memberikan keringanan kepada saya.
Saya bersyukur di RS ini menggunakan Wifi.Id sehingga saya bisa akses internet tanpa harus kuatir habis kuota.
Terimakasih saya ucapkan 🙂

Dan yang paling penting saya bersyukur kepada Allah SWT yang memberikan saya kesehatan, ketabahan, kekuatan lebih dari ibu saya dalam menghadapi ini semua. Prestasi terbesar saya di tahun 2020 ini adalah ketika saya dapat menemani dan merawat ibu saya dari awal sampai akhirnya bisa sembuh dan keluar  RS maupun Virus Covid-19 ini..

Syifa Najiah

Syifa Najiah

Librarian Literacy Information @elibrary_akatel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *